بـســـــــــــم الله الرحمن اللرحيم
Qishash
al-Anbiya – Ibnu Katsir
اسلم عليكم, puji dan
syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah
yang telah memberikan kesehatan kepada kita
dan memberikan kesabaran terhadap setiap ujian yang diberikan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya yang shaleh. Semoga kita selalu berada dalam rahmat-Nya. امين
yang telah memberikan kesehatan kepada kita
dan memberikan kesabaran terhadap setiap ujian yang diberikan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya yang shaleh. Semoga kita selalu berada dalam rahmat-Nya. امين
اقرأ :
Al-Qur’an menceritakan tentang permohonan Nabi Nuh kepada Allah terkait
anaknya. Pertanyaan yang disampaikan Nuh terkait kenapa Allah menenggelamkan
anaknya, tidak lain hanya untuk mencari tahu. Alasannya, Allah telah berjanji
kepada Nuh untuk menyelamatkannya beserta keluarganya, dan anaknya yang
tenggelam tersebut adalah bagian dari keluarganya.
Jawaban disampaikan kepada Nuh, anaknya tersebut bukan termasuk
keluarganya yang dijanjikan untuk diselamatkan Allah. Maksudnya, Kami (Allah)
berfirman, “Dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan
terdahulu.” (Hûd, 11 : 40). Anakmu itu termasuk di antara mereka yang
terkena ketetapan terdahulu, ia ditetapkan pasti tenggelam karena kekafirannya.
Itulah kenapa takdir menggiringnya keluar dari golongan orang-orang mukmin,
hingga akhirnya tenggelam bersama golongan orang-orang kafir dan lalim.
Selanjutnya Allah
berfirman, “Difirmankan, ‘Wahai Nuh!
Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan
bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri
kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang
pedih.’” (Hûd, 11 : 48).
berfirman, “Difirmankan, ‘Wahai Nuh!
Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan
bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri
kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang
pedih.’” (Hûd, 11 : 48).
Setelah air di muka bumi menyusut, bisa digunakan untuk berjalan dan
menetap, Nuh diperintahkan untuk turun dari kapal yang sudah berlabuh di atas
gunung Judi, setelah melalui perjalanan agung. Judi adalah sebuah pegunungan
terkenal di Jazirah. “Dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari
Kami,” yaitu turunlah dengan selamat dan diberkahi, untukmu dan juga
umat-umat yang akan muncul sesudahnya dari keturunanmu, karena di antara
orang-orang mukmin yang ikut naik kapal bersama Nuh, tak seorang pun memiliki
keturunan, kecuali Nuh. Allah
berfirman, “Dan Kami jadikan anak cucunya
orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (Aș-Șâffât, 37 : 77). Semua
manusia yang ada di muka bumi saat ini dari berbagai ras, seluruhnya berasal
dari keturunan tiga anak Nuh; Sam, Ham dan Yafits.
berfirman, “Dan Kami jadikan anak cucunya
orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (Aș-Șâffât, 37 : 77). Semua
manusia yang ada di muka bumi saat ini dari berbagai ras, seluruhnya berasal
dari keturunan tiga anak Nuh; Sam, Ham dan Yafits.
Imam Ahmad mengatakan, “Abdul Wahhab bercerita kepada kami, dari Sa’id,
dari Qatadah, dari Samurah, Nabi
bersabda, ‘Sam adalah nenek moyang bangsa
Arab, Ham adalah nenek moyang bangsa Habasyah, dan Yafits adalah nenek moyang
bangsa Romawi.’”[17]
bersabda, ‘Sam adalah nenek moyang bangsa
Arab, Ham adalah nenek moyang bangsa Habasyah, dan Yafits adalah nenek moyang
bangsa Romawi.’”[17]
Juga diriwayatkan At-Tirmidzi dari Bisyr bin Mu’adz Al-Aqadi, dari
Yazid bin Zurai’, dari Sa’id bin Abu Urubah, dari Qatadah, dari Hasan, dari
Samurah secara marfu’ dengan matan serupa.
Syaikh Abu Umar bin Abdilbar mengatakan, “Hadits yang sama juga
diriwayatkan dari Imran bin Hushain, dari Nabi
.” Ibnu Abdilbar menyatakan,
“Romawi yang dimaksud adalah bangsa Romawi pertama, mereka adalah orang-orang
Yunani yang nasabnya terhubung hingga Rumi bin Laqathi bin Yunan bin Yafits bin
Nuh.
.” Ibnu Abdilbar menyatakan,
“Romawi yang dimaksud adalah bangsa Romawi pertama, mereka adalah orang-orang
Yunani yang nasabnya terhubung hingga Rumi bin Laqathi bin Yunan bin Yafits bin
Nuh.
Selanjutnya diriwayatkan dari hadits Isma’il bin Iyasy, dari Yahya bin
Sa’id, dari Sa’id bin Musayyib,[18]
ia mengatakan, “Nuh memiliki tiga anak; Sam, Yafits dan Ham. Masing-masing
memiliki keturunan. Sam memiliki keturunan bangsa Arab, Persia dan Romawi.
Yafits memiliki keturunan bangsa Turki, Sicilia, Ya’juj dan Ma’juj. Dan Ham
memiliki keturunan bangsa Qibthi, Sudan dan Barbar.”
Ibnu Katsir menyampaikan, “Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar menyebutkan
dalam Musnad-nya; Ibrahim bin Hani dan Ahmad bin Husain bin Ubbad Abu
Abbas bercerita kepada kami, ia mengatakan, ‘Muhammad bin Yazid bin Sinan
Ar-Rahawi bercerita kepadaku, ayahku bercerita kepadaku, dari Yahya bin Sa’ad,
dari Sa’id bin Musayyib, dari Abu Hurairah, ia mengatakan, ‘Rasulullah
bersabda, ‘Nuh memiliki anak; Sam, Ham dan Yafits.
Sam kemudian memiliki keturunan bangsa Arab, Persia dan Romawi. Kebaikan ada
pada mereka. Yafits memiliki keturunan bangsa Turki, Sicilia, Ya’juj dan
Ma’juj. Mereka tidak memiliki kebaikan. Dan Ham memiliki keturunan bangsa
Qibthi, Sudan, dan Barbar.’”
bersabda, ‘Nuh memiliki anak; Sam, Ham dan Yafits.
Sam kemudian memiliki keturunan bangsa Arab, Persia dan Romawi. Kebaikan ada
pada mereka. Yafits memiliki keturunan bangsa Turki, Sicilia, Ya’juj dan
Ma’juj. Mereka tidak memiliki kebaikan. Dan Ham memiliki keturunan bangsa
Qibthi, Sudan, dan Barbar.’”
Abu Bakar Al-Bazzar selanjutnya mengatakan, “Kami tidak mengetahui
hadits ini diriwayatkan secara marfu’ selain melalui jalur ini. Hanya Muhammad
bin Yazid bin Sinan yang meriwayatkan hadits ini dari ayahnya. Beberapa ahlul
ilmi memperbincangkan tentang Muhammad bin Yazid, namun mereka tetap
meriwayatkan haditsnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh yang lain dari Yahya
bin Sa’id secara mursal tanpa menyebut sanad, dan dinyatakan bersumber dari
perkataan Sa’id.”
Ibnu Katsir menyampaikan, “Pernyataan Abu Umar inilah yang terjaga dari
perkataan Sa’id. Hadits yang sama juga diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih. Wallâhu
a’lam. Yazid bin Sinan Abu Farwah Ar-Rahawi sangat lemah sekali, tidak bisa
diandalkan.”
Salah satu sumber menyebutkan, sebelum banjir bah datang, Nuh belum
memiliki tiga anak tersebut. Anak Nuh—sebelum membuat kapal—hanyalah Kan’an
yang tenggelam, dan Abir sebelum banjir bah terjadi.
Yang șahih, ketiga anak Nuh tersebut turut serta di kapal bersama istri
masing-masing dan sang ibu. Inilah yang dinyatakan dalam kita Taurat.
Disebutkan dalam salah satu sumber, Ham menggauli istrinya saat berada di atas
kapal, lalu Nuh berdoa agar nutfahnya mengeruh, hingga akhirnya Ham memiliki
anak berkulit hitam. Anaknya bernama Kan’an bin Ham, nenek moyang bangsa Sudan.
Sumber lain menyebutkan, yang benar Nuh melihatnya tidur dengan aurat
tersingkap tanpa ia tutupi, lalu kedua saudaranya menutup aurat Ham. Karena
itulah Nuh berdoa padanya agar nutfahnya berubah, dan anak-anaknya menjadi
budak-budak para saudaranya.
Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ali bin Zaid bin
Jad’an, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, ia menyatakan, “Kaum Hawari
berkata pada Isa putra Maryam, ‘Andai engkau menghidupkan untuk kami seseorang
yang menyaksikan kapal (Nuh) agar bisa menceritakannya kepada kami.’ Isa
kemudian mengajak mereka pergi hingga tiba di salah satu gundukan tanah, Isa
memungut tanah dengan tangannya lalu bertanya, ‘Tahukah kalian apa ini?’ Mereka
menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lebih tahu.’ Isa mengatakan, ‘Ini adalah Ka’ab
bin Ham bin Nuh.’ Isa kemudian memukulkan tongkat ke gundukan tanah tersebut
dan berkata, ‘Berdirilah atas izin Allah!’ Ka’ab bin Ham bin Nuh kemudian
berdiri mengibaskan tanah dari kepala dengan rambut yang sudah beruban. Isa bertanya
padanya, ‘Kau meninggal dunia dalam kondisi seperti ini?’ Ka’ab bin Ham
menjawab, ‘Tidak. Aku meninggal dunia saat masih muda. Aku kira sekarang ini
kiamat, karena itu rambutku beruban.’
Isa berkata, ‘Ceritakan kepada kami tentang kapal Nuh.’ Ka’ab bin Ham
bin Nuh menuturkan, ‘Panjangnya 1200 hasta dengan lebar 600 hasta, terdiri dari
tiga tingkat; satu tingkat dihuni hewan dan binatang buas, tingkat lainnya
dihuni manusia, dan tingkat berikutnya ditempati burung. Ketika kotoran-kotoran
burung menumpuk, Allah
mewahyukan kepada Nuh agar mengusap-usap ekor
gajah. Nuh mengusap-usap ekor gajah lalu sepasang babi jatuh dari ekor
tersebut, kedua babi itu lalu memakan kotoran-kotoran burung. Saat tikus-tikus
melubangi perahu dengan giginya, Allah
mewahyukan kepada Nuh, ‘Tepuklah bagian di
antara kedua mata singa.’ Setelah Nuh menepuk muka singa, dari hidungnya keluar
sepasang kucing besar, lalu keduanya menghampiri tikus-tikus tersebut.’
mewahyukan kepada Nuh agar mengusap-usap ekor
gajah. Nuh mengusap-usap ekor gajah lalu sepasang babi jatuh dari ekor
tersebut, kedua babi itu lalu memakan kotoran-kotoran burung. Saat tikus-tikus
melubangi perahu dengan giginya, Allah
mewahyukan kepada Nuh, ‘Tepuklah bagian di
antara kedua mata singa.’ Setelah Nuh menepuk muka singa, dari hidungnya keluar
sepasang kucing besar, lalu keduanya menghampiri tikus-tikus tersebut.’
Isa bertanya, ‘Bagaimana Nuh tahu kalau seluruh negeri telah tenggelam?’
Ka’ab menuturkan, ‘Nuh mengutus seekor burung gagak. Gagak kemudian datang dan
menyampaikan kabar, setelah itu melihat bangkai manusia, lalu menghampirinya.
Nuh lalu mendoakan burung gagak agar selalu merasa takut. Karena itulah burung
gagak tidak terbiasa menghinggapi rumah-rumah orang.’
Ka’ab meneruskan, ‘Setelah itu Nuh mengutus burung merpati. Burung
merpati kemudian datang dengan membawa daun pohon Zaitun yang ia patok dan buah
Tin yang ia cengkeram. Nuh akhirnya tahu bahwa seluruh negeri tenggelam, lalu
Nuh mengalungkan sayuran hijau di leher merpati itu dan berdoa agar ia selalu
merasa tenang dan aman. Karena itulah, burung merpati suka berada di
rumah-rumah orang.’
Kaum Hawari berkata, ‘Wahai utusan Allah! Kenapa tidak
membawanya (Ka’ab) pulang agar bisa tinggal bersama kita dan bercerita kepada
kita?’ Isa berkata, ‘Bagaimana bisa orang yang tidak punya rezeki mengikuti
kalian?’ Isa kemudian berkata kepada Ka’ab, ‘Kembalilah dengan izin Allah!’ Ka’ab
kembali menjadi tanah.’”
Atsar ini aneh sekali.[19]
Ulba bin Ahmar meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia
mengatakan, “Ada 80 orang ikut serta bersama Nuh di atas perahu, mereka semua
membawa keluarga, dan mereka berada di atas perahu selama 150 hari. Allah
mengarahkan perahu ke Mekkah, perahu kemudian berputar ke gunung Judi, hingga
berlabuh di sana. Nuh kemudian mengutus burung gagak untuk menyampaikan berita
bumi. Gagak terbang lalu menghinggapi bangkai manusia hingga tidak kunjung
datang. Nuh kemudian mengutus burung merpati. Merpati kemudian datang dengan
buah Tin. Nuh akhirnya tahu air sudah surut. Nuh kemudian turun ke lembah
gunung Judi, mendirikan sebuah perkampungan di sana dan ia beri nama kampung
Tsamanin. Suatu ketika, bahasa mereka bercampur baur menjadi 80 bahasa, salah
satunya bahasa Arab. Sebagian di antara mereka tidak memahami bahasa yang lain,
dan Nuhlah yang menerjemahkannya.”
Qatadah dan lainnya menuturkan, “Mereka naik kapal pada tanggal 1
Rajab, mereka kemudian berlabuh selama 150 hari, hingga kapal berlabuh di atas
gunung Judi selama sebulan.
Mereka keluar dari kapal pada Asyura’ (10 Muharram).” Ibnu Jarir
meriwayatkan hadits marfu’ yang isinya selaras dengan riwayat di atas, dan
mereka berpuasa pada hari itu.
Imam Ahmad menuturkan, “Abu Ja’far bercerita kepada kami, Abduș Șamad
bin Habib Al-Azdi bercerita kepada kami, dari ayahnya, Habib bin Abdullah, dari
Syabal, dari Abu Hurairah, ia menuturkan, ‘Nabi
suatu ketika melintas di hadapan sejumlah
orang Yahudi, mereka saat itu tengah puasa Asyura’, Nabi
bertanya, ‘Puasa apa itu?’ Mereka menjawab,
‘Hari ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil hingga
tidak tenggelam, sementara Fir’aun tenggelam. Pada hari ini kapal (Nuh)
berlabuh di atas gunung Judi, lalu Nuh dan Musa berpuasa pada hari ini sebagai
wujud rasa syukur kepada Allah
. Nabi
kemudian bersabda, ‘Aku lebih berhak atas
Musa, dan lebih berhak untuk berpuasa pada hari ini.’ Beliau kemudian bersabda
kepada para sahabat, ‘Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa, teruskan
puasanya, dan siapa di antara kalian yang telah memakan makanan keluarganya,
hendaklah berpuasa pada sisa hari ini.’”[20]
suatu ketika melintas di hadapan sejumlah
orang Yahudi, mereka saat itu tengah puasa Asyura’, Nabi
bertanya, ‘Puasa apa itu?’ Mereka menjawab,
‘Hari ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil hingga
tidak tenggelam, sementara Fir’aun tenggelam. Pada hari ini kapal (Nuh)
berlabuh di atas gunung Judi, lalu Nuh dan Musa berpuasa pada hari ini sebagai
wujud rasa syukur kepada Allah
. Nabi
kemudian bersabda, ‘Aku lebih berhak atas
Musa, dan lebih berhak untuk berpuasa pada hari ini.’ Beliau kemudian bersabda
kepada para sahabat, ‘Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa, teruskan
puasanya, dan siapa di antara kalian yang telah memakan makanan keluarganya,
hendaklah berpuasa pada sisa hari ini.’”[20]
Hadits ini dikuatkan oleh hadits lain dalam kitab Șhaḥiḥ
dari jalur berbeda. Yang aneh adalah Nuh disebut-sebut dalam hadits ini. Wallâhu
a’lam.
Terkait kabar bersumber dari orang-orang bodoh yang menyebut bahwa kaum
mukminin pengikut Nuh memakan sisa-sisa bekal, menumbuk biji-bijian yang mereka
bawa, mengenakan celak mata untuk memperkuat pandangan mata kala silau terkena
cahaya setelah lama berada di dalam gelapnya kapal, semua ini sama sekali tidak
benar.
Hanya bersumber dari atsar-atsar Bani Israil dengan sanad terputus,
tidak bisa dijadikan pedoman dan teladan. Wallâhu a’lam.
Muhammad bin Ishaq menuturkan, “Saat berkehendak untuk menghentikan
banjir bah, Allah mengirim angin ke permukaan bumi, air pun berhenti bergerak,
sumber-sumber mata air bumi tertutup, dan air mulai menyusut dan berlalu.
Kapal—menurut pernyataan para pemiliki kitab Taurat—berlabuh (di atas gunung
Judi) pada bulan ketujuh, setelah berlalu 17 malam dari bulan ini. Kemudian
pada hari pertama bulan kesepuluh, puncak-puncak gunung mulai terlihat. Empat
puluh hari berikutnya, Nuh membuka lubang angin yang ia buat di kapal, lalu
mengutus burung gagak untuk melihat kondisi air. Burung gagak ternyata tidak
kembali. Setelah itu Nuh mengirim burung merpati. Tidak lama setelah itu,
merpati kembali. Karena merpati tidak menemukan tempat untuk bertengger, Nuh
membentangkan tangannya, ia raih burung tersebut lalu ia masukkan. Tujuh hari
berikutnya, Nuh kembali mengutus merpati untuk melihat kondisi air. Merpati
tidak langsung pulang, dan baru pulang pada sore hari, dan di paruhnya terdapat
daun Zaitun. Nuh pun mengetahui air sudah menyusut di permukaan bumi. Tujuh
hari berikutnya, Nuh mengutus merpati, dan kali ini si merpati tidak kembali
lagi, Nuh pun mengetahui bahwa permukaan bumi sudah terlihat. Setelah genap
satu tahun sejak Allah mengirim banjir bah, hingga Nuh mengutus burung merpati
itu, dan memasuki hari pertama, bulan pertama, tahun kedua, permukaan bumi dan
tanah sudah terlihat , Nuh kemudian membuka penutup kapal.”
Riwayat yang disampaikan Ibnu Ishaq ini sendiri merupakan inti
rangkaian cerita yang tertera dalam kitab Taurat di tangan para Ahli Kitab.
Ibnu Ishaq menyebutkan, “Pada tanggal dua puluh, bulan kedua, tahun
kedua, “Difirmankan, ‘Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh
keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan
ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian
mereka akan ditimpa azak Kami yang pedih.’” (Hûd, 11 : 48).
Disebutkan dalam riwayat Ahli Kitab, Allah berfirman kepada Nuh,
“Keluarlah dari kapal, keluarkan pula istri, anak-anakmu, para istri
anak-anakmu, dan seluruh hewan yang ada bersamamu, supaya semuanya berkembang
dan menjadi banyak di bumi.” Mereka semua keluar, kemudian Nuh mendirikan
tempat penyembelihan hewan kurban untuk Allah
, lalu mengambil sebagian dari
seluruh hewan dan burung yang halal, lalu ia sembelih untuk mendekatkan diri
kepada Allah
, Allah kemudian berjanji pada
Nuh untuk tidak menimpakan lagi banjir bah kepada penduduk bumi.
, lalu mengambil sebagian dari
seluruh hewan dan burung yang halal, lalu ia sembelih untuk mendekatkan diri
kepada Allah
, Allah kemudian berjanji pada
Nuh untuk tidak menimpakan lagi banjir bah kepada penduduk bumi.
Sebagai pengingat akan janji ini, Allah memberikan tanda kepada Nuh
berupa pelangi di awan, yang menurut riwayat dari Ibnu Abbas sebagai jaminan
aman dari banjir bah. Sebagian menyatakan, ini mengisyaratkan bahwa pelangi
adalah busur tanpa senar. Intinya, awan tempat pelangi berada tidak akan
mendatangkan banjir lagi seperti yang pernah terjadi.
Sekelompok orang bodoh dari Persia dan India mengingkari adanya banjir
bah ini, sementara sebagian lainnya mengakui. Mereka berkata, “Banjir tersebut
hanya menimpa bumi Babilonia dan tidak sampai ke tempat kami.” Mereka juga
mengatakan, “Kami mewarisi kerajaan secara turun temurun, dari seorang pembesar
ke pembesar berikutnya, sejak Komores—Adam maksudnya—hingga saat ini.”
Pernyataan ini diungkapkan kaum Majusi penyembah api dan para pengikut
setan. Pernyataan ini tidak lain hanya sophisme, pengingkaran, dan kebodohan
luar biasa, penentangan terhadap hal-hal nyata, dan pendustaan terhadap Rabb
bumi dan langit.
Seluruh pemeluk agama yang menukil riwayat dari para utusan Allah, di
samping riwayat-riwayat mutawattir sebagian besar orang sepanjang zaman sepakat
menyebut terjadinya banjir besar ini. Banjir ini merata di seluruh permukaan
bumi, dan Allah tidak menyisakan seorang kafir pun, sebagai jawaban atas doa
nabi-Nya yang dikuatkan dengan pertolongan dan terjaga dari kesalahan serta
dosa, di samping sebagai perwujudan dari takdir yang telah ditetapkan
sebelumnya.
[17] HR.
Ahmad dalam Musnad-nya (V/9).
[18] Sa’id
bin Musayyib bin Hazan Al-Makhzumi Abu Muhammad Al-Madani, meninggal dunia
tahun 94 H. (Tadzkiratul Ḥuffâzh, I/53, Tahdzîbut Tahdzîb,
XII/465)
[19]
Disebutkan Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, tafsir surah Hûd (XII/35).
[20] HR.
Ahmad dalam Musnad-nya (III/395) dengan sanad yang berbeda dari sanad
hadits sebelumnya.


bagus info nya
ReplyDeleteterus update info lain nya