بــــسم الله الرحمن الرحيم

"...dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan."
Software Islami Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam Berisi Kumpulan Hadits dan Terjemah.
Software Islami Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam Berisi Kumpulan Hadits dan Terjemah.
Lihat Di Sini
1 2 3 4 5

Kisah Nabi Nuh عليه سلام Bagian 5

Software islami ensiklopedi hadits kitab 9 imam berisi kumpulan hadits dan terjemah
بـســـــــــــم الله الرحمن اللرحيم

Qishash al-Anbiya – Ibnu Katsir
اسلم عليكم, puji dan syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah l yang telah memberikan kesehatan kepada kita dan memberikan kesabaran terhadap setiap ujian yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Semoga kita selalu berada dalam rahmat-Nya. امين

اقرأ :

(Apabila simbol untuk gelar Rasul dan Allah tidak muncul di layar Anda, silahkan download font berikut agar simbol dapat muncul sebagaimana mestinya.Download Font Di Sini

 
Ilustrasi Banjir Besar Nabi Nuh
Picture of 'fellowshipofminds'
Ilustrasi Banjir Besar Nabi Nuh


Al-Qur’an menceritakan tentang permohonan Nabi Nuh kepada Allah terkait anaknya. Pertanyaan yang disampaikan Nuh terkait kenapa Allah menenggelamkan anaknya, tidak lain hanya untuk mencari tahu. Alasannya, Allah telah berjanji kepada Nuh untuk menyelamatkannya beserta keluarganya, dan anaknya yang tenggelam tersebut adalah bagian dari keluarganya.

Jawaban disampaikan kepada Nuh, anaknya tersebut bukan termasuk keluarganya yang dijanjikan untuk diselamatkan Allah. Maksudnya, Kami (Allah) berfirman, “Dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu.” (Hûd, 11 : 40). Anakmu itu termasuk di antara mereka yang terkena ketetapan terdahulu, ia ditetapkan pasti tenggelam karena kekafirannya. Itulah kenapa takdir menggiringnya keluar dari golongan orang-orang mukmin, hingga akhirnya tenggelam bersama golongan orang-orang kafir dan lalim.

Selanjutnya Allah k berfirman, “Difirmankan, ‘Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.’” (Hûd, 11 : 48).

Setelah air di muka bumi menyusut, bisa digunakan untuk berjalan dan menetap, Nuh diperintahkan untuk turun dari kapal yang sudah berlabuh di atas gunung Judi, setelah melalui perjalanan agung. Judi adalah sebuah pegunungan terkenal di Jazirah. “Dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami,” yaitu turunlah dengan selamat dan diberkahi, untukmu dan juga umat-umat yang akan muncul sesudahnya dari keturunanmu, karena di antara orang-orang mukmin yang ikut naik kapal bersama Nuh, tak seorang pun memiliki keturunan, kecuali Nuh. Allah k berfirman, “Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (Aș-Șâffât, 37 : 77). Semua manusia yang ada di muka bumi saat ini dari berbagai ras, seluruhnya berasal dari keturunan tiga anak Nuh; Sam, Ham dan Yafits.

Imam Ahmad mengatakan, “Abdul Wahhab bercerita kepada kami, dari Sa’id, dari Qatadah, dari Samurah, Nabi n bersabda, ‘Sam adalah nenek moyang bangsa Arab, Ham adalah nenek moyang bangsa Habasyah, dan Yafits adalah nenek moyang bangsa Romawi.’”[17]

Juga diriwayatkan At-Tirmidzi dari Bisyr bin Mu’adz Al-Aqadi, dari Yazid bin Zurai’, dari Sa’id bin Abu Urubah, dari Qatadah, dari Hasan, dari Samurah secara marfu’ dengan matan serupa.

Syaikh Abu Umar bin Abdilbar mengatakan, “Hadits yang sama juga diriwayatkan dari Imran bin Hushain, dari Nabi n.” Ibnu Abdilbar menyatakan, “Romawi yang dimaksud adalah bangsa Romawi pertama, mereka adalah orang-orang Yunani yang nasabnya terhubung hingga Rumi bin Laqathi bin Yunan bin Yafits bin Nuh.

Selanjutnya diriwayatkan dari hadits Isma’il bin Iyasy, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Musayyib,[18] ia mengatakan, “Nuh memiliki tiga anak; Sam, Yafits dan Ham. Masing-masing memiliki keturunan. Sam memiliki keturunan bangsa Arab, Persia dan Romawi. Yafits memiliki keturunan bangsa Turki, Sicilia, Ya’juj dan Ma’juj. Dan Ham memiliki keturunan bangsa Qibthi, Sudan dan Barbar.”

Ibnu Katsir menyampaikan, “Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar menyebutkan dalam Musnad-nya; Ibrahim bin Hani dan Ahmad bin Husain bin Ubbad Abu Abbas bercerita kepada kami, ia mengatakan, ‘Muhammad bin Yazid bin Sinan Ar-Rahawi bercerita kepadaku, ayahku bercerita kepadaku, dari Yahya bin Sa’ad, dari Sa’id bin Musayyib, dari Abu Hurairah, ia mengatakan, ‘Rasulullah n bersabda, ‘Nuh memiliki anak; Sam, Ham dan Yafits. Sam kemudian memiliki keturunan bangsa Arab, Persia dan Romawi. Kebaikan ada pada mereka. Yafits memiliki keturunan bangsa Turki, Sicilia, Ya’juj dan Ma’juj. Mereka tidak memiliki kebaikan. Dan Ham memiliki keturunan bangsa Qibthi, Sudan, dan Barbar.’”

Abu Bakar Al-Bazzar selanjutnya mengatakan, “Kami tidak mengetahui hadits ini diriwayatkan secara marfu’ selain melalui jalur ini. Hanya Muhammad bin Yazid bin Sinan yang meriwayatkan hadits ini dari ayahnya. Beberapa ahlul ilmi memperbincangkan tentang Muhammad bin Yazid, namun mereka tetap meriwayatkan haditsnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh yang lain dari Yahya bin Sa’id secara mursal tanpa menyebut sanad, dan dinyatakan bersumber dari perkataan Sa’id.”

Ibnu Katsir menyampaikan, “Pernyataan Abu Umar inilah yang terjaga dari perkataan Sa’id. Hadits yang sama juga diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih. Wallâhu a’lam. Yazid bin Sinan Abu Farwah Ar-Rahawi sangat lemah sekali, tidak bisa diandalkan.”

Salah satu sumber menyebutkan, sebelum banjir bah datang, Nuh belum memiliki tiga anak tersebut. Anak Nuh—sebelum membuat kapal—hanyalah Kan’an yang tenggelam, dan Abir sebelum banjir bah terjadi.

Yang șahih, ketiga anak Nuh tersebut turut serta di kapal bersama istri masing-masing dan sang ibu. Inilah yang dinyatakan dalam kita Taurat. Disebutkan dalam salah satu sumber, Ham menggauli istrinya saat berada di atas kapal, lalu Nuh berdoa agar nutfahnya mengeruh, hingga akhirnya Ham memiliki anak berkulit hitam. Anaknya bernama Kan’an bin Ham, nenek moyang bangsa Sudan. Sumber lain menyebutkan, yang benar Nuh melihatnya tidur dengan aurat tersingkap tanpa ia tutupi, lalu kedua saudaranya menutup aurat Ham. Karena itulah Nuh berdoa padanya agar nutfahnya berubah, dan anak-anaknya menjadi budak-budak para saudaranya.

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ali bin Zaid bin Jad’an, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, ia menyatakan, “Kaum Hawari berkata pada Isa putra Maryam, ‘Andai engkau menghidupkan untuk kami seseorang yang menyaksikan kapal (Nuh) agar bisa menceritakannya kepada kami.’ Isa kemudian mengajak mereka pergi hingga tiba di salah satu gundukan tanah, Isa memungut tanah dengan tangannya lalu bertanya, ‘Tahukah kalian apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lebih tahu.’ Isa mengatakan, ‘Ini adalah Ka’ab bin Ham bin Nuh.’ Isa kemudian memukulkan tongkat ke gundukan tanah tersebut dan berkata, ‘Berdirilah atas izin Allah!’ Ka’ab bin Ham bin Nuh kemudian berdiri mengibaskan tanah dari kepala dengan rambut yang sudah beruban. Isa bertanya padanya, ‘Kau meninggal dunia dalam kondisi seperti ini?’ Ka’ab bin Ham menjawab, ‘Tidak. Aku meninggal dunia saat masih muda. Aku kira sekarang ini kiamat, karena itu rambutku beruban.’

Isa berkata, ‘Ceritakan kepada kami tentang kapal Nuh.’ Ka’ab bin Ham bin Nuh menuturkan, ‘Panjangnya 1200 hasta dengan lebar 600 hasta, terdiri dari tiga tingkat; satu tingkat dihuni hewan dan binatang buas, tingkat lainnya dihuni manusia, dan tingkat berikutnya ditempati burung. Ketika kotoran-kotoran burung menumpuk, Allah k mewahyukan kepada Nuh agar mengusap-usap ekor gajah. Nuh mengusap-usap ekor gajah lalu sepasang babi jatuh dari ekor tersebut, kedua babi itu lalu memakan kotoran-kotoran burung. Saat tikus-tikus melubangi perahu dengan giginya, Allah k mewahyukan kepada Nuh, ‘Tepuklah bagian di antara kedua mata singa.’ Setelah Nuh menepuk muka singa, dari hidungnya keluar sepasang kucing besar, lalu keduanya menghampiri tikus-tikus tersebut.’

Isa bertanya, ‘Bagaimana Nuh tahu kalau seluruh negeri telah tenggelam?’ Ka’ab menuturkan, ‘Nuh mengutus seekor burung gagak. Gagak kemudian datang dan menyampaikan kabar, setelah itu melihat bangkai manusia, lalu menghampirinya. Nuh lalu mendoakan burung gagak agar selalu merasa takut. Karena itulah burung gagak tidak terbiasa menghinggapi rumah-rumah orang.’

Ka’ab meneruskan, ‘Setelah itu Nuh mengutus burung merpati. Burung merpati kemudian datang dengan membawa daun pohon Zaitun yang ia patok dan buah Tin yang ia cengkeram. Nuh akhirnya tahu bahwa seluruh negeri tenggelam, lalu Nuh mengalungkan sayuran hijau di leher merpati itu dan berdoa agar ia selalu merasa tenang dan aman. Karena itulah, burung merpati suka berada di rumah-rumah orang.’

Kaum Hawari berkata, ‘Wahai utusan Allah! Kenapa tidak membawanya (Ka’ab) pulang agar bisa tinggal bersama kita dan bercerita kepada kita?’ Isa berkata, ‘Bagaimana bisa orang yang tidak punya rezeki mengikuti kalian?’ Isa kemudian berkata kepada Ka’ab, ‘Kembalilah dengan izin Allah!’ Ka’ab kembali menjadi tanah.’”

Atsar ini aneh sekali.[19]

Ulba bin Ahmar meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Ada 80 orang ikut serta bersama Nuh di atas perahu, mereka semua membawa keluarga, dan mereka berada di atas perahu selama 150 hari. Allah mengarahkan perahu ke Mekkah, perahu kemudian berputar ke gunung Judi, hingga berlabuh di sana. Nuh kemudian mengutus burung gagak untuk menyampaikan berita bumi. Gagak terbang lalu menghinggapi bangkai manusia hingga tidak kunjung datang. Nuh kemudian mengutus burung merpati. Merpati kemudian datang dengan buah Tin. Nuh akhirnya tahu air sudah surut. Nuh kemudian turun ke lembah gunung Judi, mendirikan sebuah perkampungan di sana dan ia beri nama kampung Tsamanin. Suatu ketika, bahasa mereka bercampur baur menjadi 80 bahasa, salah satunya bahasa Arab. Sebagian di antara mereka tidak memahami bahasa yang lain, dan Nuhlah yang menerjemahkannya.”

Qatadah dan lainnya menuturkan, “Mereka naik kapal pada tanggal 1 Rajab, mereka kemudian berlabuh selama 150 hari, hingga kapal berlabuh di atas gunung Judi selama sebulan.

Mereka keluar dari kapal pada Asyura’ (10 Muharram).” Ibnu Jarir meriwayatkan hadits marfu’ yang isinya selaras dengan riwayat di atas, dan mereka berpuasa pada hari itu.

Imam Ahmad menuturkan, “Abu Ja’far bercerita kepada kami, Abduș Șamad bin Habib Al-Azdi bercerita kepada kami, dari ayahnya, Habib bin Abdullah, dari Syabal, dari Abu Hurairah, ia menuturkan, ‘Nabi n suatu ketika melintas di hadapan sejumlah orang Yahudi, mereka saat itu tengah puasa Asyura’, Nabi n bertanya, ‘Puasa apa itu?’ Mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil hingga tidak tenggelam, sementara Fir’aun tenggelam. Pada hari ini kapal (Nuh) berlabuh di atas gunung Judi, lalu Nuh dan Musa berpuasa pada hari ini sebagai wujud rasa syukur kepada Allah k. Nabi n kemudian bersabda, ‘Aku lebih berhak atas Musa, dan lebih berhak untuk berpuasa pada hari ini.’ Beliau kemudian bersabda kepada para sahabat, ‘Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa, teruskan puasanya, dan siapa di antara kalian yang telah memakan makanan keluarganya, hendaklah berpuasa pada sisa hari ini.’”[20]

Hadits ini dikuatkan oleh hadits lain dalam kitab Șhaḥi dari jalur berbeda. Yang aneh adalah Nuh disebut-sebut dalam hadits ini. Wallâhu a’lam.

Terkait kabar bersumber dari orang-orang bodoh yang menyebut bahwa kaum mukminin pengikut Nuh memakan sisa-sisa bekal, menumbuk biji-bijian yang mereka bawa, mengenakan celak mata untuk memperkuat pandangan mata kala silau terkena cahaya setelah lama berada di dalam gelapnya kapal, semua ini sama sekali tidak benar.

Hanya bersumber dari atsar-atsar Bani Israil dengan sanad terputus, tidak bisa dijadikan pedoman dan teladan. Wallâhu a’lam.

Muhammad bin Ishaq menuturkan, “Saat berkehendak untuk menghentikan banjir bah, Allah mengirim angin ke permukaan bumi, air pun berhenti bergerak, sumber-sumber mata air bumi tertutup, dan air mulai menyusut dan berlalu. Kapal—menurut pernyataan para pemiliki kitab Taurat—berlabuh (di atas gunung Judi) pada bulan ketujuh, setelah berlalu 17 malam dari bulan ini. Kemudian pada hari pertama bulan kesepuluh, puncak-puncak gunung mulai terlihat. Empat puluh hari berikutnya, Nuh membuka lubang angin yang ia buat di kapal, lalu mengutus burung gagak untuk melihat kondisi air. Burung gagak ternyata tidak kembali. Setelah itu Nuh mengirim burung merpati. Tidak lama setelah itu, merpati kembali. Karena merpati tidak menemukan tempat untuk bertengger, Nuh membentangkan tangannya, ia raih burung tersebut lalu ia masukkan. Tujuh hari berikutnya, Nuh kembali mengutus merpati untuk melihat kondisi air. Merpati tidak langsung pulang, dan baru pulang pada sore hari, dan di paruhnya terdapat daun Zaitun. Nuh pun mengetahui air sudah menyusut di permukaan bumi. Tujuh hari berikutnya, Nuh mengutus merpati, dan kali ini si merpati tidak kembali lagi, Nuh pun mengetahui bahwa permukaan bumi sudah terlihat. Setelah genap satu tahun sejak Allah mengirim banjir bah, hingga Nuh mengutus burung merpati itu, dan memasuki hari pertama, bulan pertama, tahun kedua, permukaan bumi dan tanah sudah terlihat , Nuh kemudian membuka penutup kapal.”

Riwayat yang disampaikan Ibnu Ishaq ini sendiri merupakan inti rangkaian cerita yang tertera dalam kitab Taurat di tangan para Ahli Kitab.

Ibnu Ishaq menyebutkan, “Pada tanggal dua puluh, bulan kedua, tahun kedua, “Difirmankan, ‘Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azak Kami yang pedih.’” (Hûd, 11 : 48).

Disebutkan dalam riwayat Ahli Kitab, Allah berfirman kepada Nuh, “Keluarlah dari kapal, keluarkan pula istri, anak-anakmu, para istri anak-anakmu, dan seluruh hewan yang ada bersamamu, supaya semuanya berkembang dan menjadi banyak di bumi.” Mereka semua keluar, kemudian Nuh mendirikan tempat penyembelihan hewan kurban untuk Allah k, lalu mengambil sebagian dari seluruh hewan dan burung yang halal, lalu ia sembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah k, Allah kemudian berjanji pada Nuh untuk tidak menimpakan lagi banjir bah kepada penduduk bumi.

Sebagai pengingat akan janji ini, Allah memberikan tanda kepada Nuh berupa pelangi di awan, yang menurut riwayat dari Ibnu Abbas sebagai jaminan aman dari banjir bah. Sebagian menyatakan, ini mengisyaratkan bahwa pelangi adalah busur tanpa senar. Intinya, awan tempat pelangi berada tidak akan mendatangkan banjir lagi seperti yang pernah terjadi.

Sekelompok orang bodoh dari Persia dan India mengingkari adanya banjir bah ini, sementara sebagian lainnya mengakui. Mereka berkata, “Banjir tersebut hanya menimpa bumi Babilonia dan tidak sampai ke tempat kami.” Mereka juga mengatakan, “Kami mewarisi kerajaan secara turun temurun, dari seorang pembesar ke pembesar berikutnya, sejak Komores—Adam maksudnya—hingga saat ini.”

Pernyataan ini diungkapkan kaum Majusi penyembah api dan para pengikut setan. Pernyataan ini tidak lain hanya sophisme, pengingkaran, dan kebodohan luar biasa, penentangan terhadap hal-hal nyata, dan pendustaan terhadap Rabb bumi dan langit.

Seluruh pemeluk agama yang menukil riwayat dari para utusan Allah, di samping riwayat-riwayat mutawattir sebagian besar orang sepanjang zaman sepakat menyebut terjadinya banjir besar ini. Banjir ini merata di seluruh permukaan bumi, dan Allah tidak menyisakan seorang kafir pun, sebagai jawaban atas doa nabi-Nya yang dikuatkan dengan pertolongan dan terjaga dari kesalahan serta dosa, di samping sebagai perwujudan dari takdir yang telah ditetapkan sebelumnya.













[17] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (V/9).
[18] Sa’id bin Musayyib bin Hazan Al-Makhzumi Abu Muhammad Al-Madani, meninggal dunia tahun 94 H. (Tadzkiratul Ḥuffâzh, I/53, Tahdzîbut Tahdzîb, XII/465)
[19] Disebutkan Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, tafsir surah Hûd (XII/35).
[20] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (III/395) dengan sanad yang berbeda dari sanad hadits sebelumnya.

1 Response to "Kisah Nabi Nuh عليه سلام Bagian 5"

Harap "Comment as Name/URL" Sertakan url Anda dalam nama untuk kunjungan balik. No active link.