بــــسم الله الرحمن الرحيم

"...dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan."
Software Islami Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam Berisi Kumpulan Hadits dan Terjemah.
Software Islami Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam Berisi Kumpulan Hadits dan Terjemah.
Lihat Di Sini
1 2 3 4 5

Nabi Adam As. Bagian 7

Software islami ensiklopedi hadits kitab 9 imam berisi kumpulan hadits dan terjemah

 
بـســـــــــــم الله الرحمن اللرحيم
Qishash al-Anbiya – Ibnu Katsir
اسلام عليكم kawan blogger yang dirahmati Allah (امين). Masih Kisah Nabi Adam (belum beres juga nih kisah), setelah sebelumnya kami menjelaskan tentang ringkasan hadits-hadits terkait penciptaan Nabi Adam As., sekarang kami akan coba menjelaskan tentang kedua anak pertama Nabi Adam As.

Gak pake basa-basi lagi, yuuk kita simak kisah berikut. :D

Ilustrasi Qabil dan Habil
Ilustrasi Qabil dan Habil


Kisah Dua Anak Adam; Qabil dan Habil
Allah Swt. berfirman, “Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, ‘Sungguh, aku pasti membunuhmu!’ Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya, Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.’ ‘Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam.’ ‘Sesungguhnya, aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.’ Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, ‘Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Maka jadilah dia temasuk orang yang menyesal.’” (Al-Mâ’idah, 5 : 27-31).

Berikut akan kami sampaikan intisari penjelasan para imam salaf terkait kisah ini.

As-Suddi meriwayatkan dari Abu Malik dan Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari sejumlah sahabat. Adam menikahkan setiap anak lelaki dengan anak perempuan yang lahir tidak bersamaan. Habil ingin menikahi saudara perempuan Qabil, dan Qabil lebih tua dari Habil. Saudara perempuan Qabil cantik jelita. Qabil tidak mau mengalah dengan saudaranya dan tetap ingin memiliki saudarinya itu. Adam memerintahkan Qabil untuk menikahkan saudarinya tersebut dengan Habil, tapi Qabil menolak. Adam lalu memerintahkan keduanya untuk mempersembahkan kurban. Adam pergi untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah, dan menitipkan anak-anaknya kepada langit, tapi langit enggan menerima permintaannya itu. Adam kemudia menitipkan anak-anaknya kepada bumi dan gunung, mereka semua menolak. Qabil justru menerima permintaan ayahnya untuk menjaga saudara-saudaranya.

Qabil dan Habil Mempersembahkan Pengorbanannya
Saat Qabil dan Habil mempersembahkan kurban, Habil mempersembahkan seekor kambing ternak gemuk, karena ia memiliki banyak kambing. Sementara Qabil mempersembahkan seikat hasil tanaman yang buruk. Api kemudian turun dan memakan kurban Habil, sementara kurban milik Qabil dibiarkan. Qabil pun marah lalu berkata, “Sungguh, aku akan membunuhmu agar tidak menikahi saudariku.” Habil menyahut, “Sesungguhnya, Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

Kisah ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas melalui sejumlah jalur riwayat lain, dan Abdullah bin Amr. Abdullah bin Amr mengatakan, “Demi Allah, yang dibunuh (Habil) sebenarnya lebih kuat dari yang membunuh (Qabil). Hanya saja rasa berdosa mencegah Habil menggerakan tangan untuk membunuh Qabil.”

Abu Ja’far Al-Baqir menyebutkan, Adam menyerahkan kurban kedua anaknya itu, lalu kurban Habil diterima, sementara kurban milik Qabil tidak diterima. Qabil kemudian berkata pada ayahnya, “Kurban Habil diterima karena kau berdoa untuknya, dan tidak berdoa untukku.” Qabil kemudian mengancam untuk membunuh saudaranya, Habil.

Peristiwa Pembunuhan Pertama di Dunia
Suatu malam, Habil tidak kunjung pulang mengembala kambing. Adam kemudian mengutus Qabil untuk melihat apa yang membuatnya terlambat pulang. Setelah mencari-cari, Qabil bertemu Habil. Qabil berkata pada Habil, “Kurbanmu diterima sementara kurbanku tidak.” Habil menyahut, “Sesungguhnya, Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” Qabil marah saat itu dan memukulkan benda tumpul yang ia bawa hingga Habil meninggal dunia. Pendapat lain menyebutkan, Qabil membunuh Habil dengan sebongkah batu yang ia lemparkan ke kepaka Habil saat sedang tidur hingga pecah. Pendapat berbeda menyatakan, Qabil mencekik Habil dengan keras dan menggigitnya seperti binatang buas, hingga Habil tewas.” Wallâhu a’lam.

Kata-kata Habil kepada Qabil saat ia diancam akan dibunuh, “Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam,” menunjukkan akhlak yang baik, takut kepada Allah, dan menahan diri untuk membalas perlakuan serupa yang akan dilakukan saudaranya.

Untuk itu Nabi Saw. bersabda seperti disebutkan dalam kitab Shaḫîḫain, “Ketika dua orang muslim saling berhadapan dengan membawa pedang, maka yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka.” Mereka para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, yang membunuh (pantas masuk neraka), lalu bagaimana dengan orang yang dibunuh (kenapa masuk neraka juga)?” Beliau menjawab, “(Karena), ia bersikeras untuk membunuh temannya.”[39]



Imam Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia mengatakan saat fitnah menimpa Utsman bin Affan, “Aku bersaksi bahwa Rasulullah Saw. pernah menyampaikan, ‘Sungguh akan terjadi suatu fitnah, orang yang duduk pada saat itu lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri saat itu lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan saat itu lebih baik dari orang yang berlari kecil.’ Sa’ad berkata, ‘Katakan padaku, jika seseorang masuk ke dalam rumahku lalu menggerakan tangan ke arahku untuk membunuhku (apa yang harus aku lakukan)?’ ‘Jadilah seperti anak Adam.’ Jawab beliau.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari Abu Mu’awiyah dan Waki’, dari Al-A’masy, dari Abdullah bin Marrah, dari Masruq, dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah suatu jiwa dibunuh secara semena-mena, melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosanya, karena dialah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan.” (HR. Jamaah, kecuali Abu Dawud, dari hadits A’masy. Seperti juga yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash dan Ibrahim An-Nakha’i, keduanya menyebutkan hadits yang sama).[40]

Lokasi Pembunuhan Habil
Menurut keterangan beberapa ulama, yang kemungkinan besar mengutip dari Ahli Kitab, bahwa lokasi terbunuhnya Habil adalah di kawasan pegunungan Qasiun,[41] sebelah utara Damaskus, terdapat sebuah gua bernama gua Dam. Gua ini dikenal sebagai tempat Qabil membunuh saudaranya, Habil. Informasi ini dinukil dari Ahli Kitab. Hanya Allah yang mengetahui keabsahan informasi ini.

Al-Hafizh Ibnu Asakir menyebutkan dalam biografi Ahmad bin Katsir—Ibnu Asakir menyatakan bahwa Ahmad bin Katsir termasuk salah seorang yang saleh—bermimpi bertemu Nabi Saw., Abu Bakar, Umar dan Habil. Habil diminta bersumpah bahwa darah itu darahnya, Habil kemudian bersumpah. Ahmad bin Katsir menyebutkan, ia memohon kepada Allah agar menjadikan tempat tersebut sebagai tempat terkabulnya doa. Permintaan itu dikabulkan dan dibenarkan Rasulullah Saw., karena beliau sendiri—dalam mimpi Ahmad bin Katsir—Abu Bakar, dan Umar biasa berkunjung ke tempat itu setiap hari Kamis.

Dengan asumsi kisah mimpi Ahmad bin Katsir ini benar, tetap tidak menimbulkan efek hukum syar’i. Wallâhu a’lam.

Firman Allah dalam surah Al-Mâ’idah, 5 : 31, sebagian ulama menyebutkan, setelah membunuh saudaranya, Qabil memanggul jasad saudaranya selama satu tahun. Yang lain menyebut selama seratus tahun. Qabil terus seperti itu hingga Allah mengutus dua gagak.

As-Suddi meriwayatkan diriwayatkan sanadnya dari para sahabat, Allah mengutus dua gagak, keduanya kemudian terlibat perkelahian, hingga salah satunya membunuh yang lain. Setelah membunuhnya, ia menggali, lalu ia lemparkan ke dalam liang tersebut, ia pendam lalu tanahnya ia ratakan kembali. Saat Qabil melihat hal itu, ‘Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Qabil melakukan seperti yang dilakukan gagak, lalu ia kubur mayat saudaranya itu.

Jumlah Anak Adam
Imam Abu Ja’far bin Jarir menyebutkan dalam kitab At-Târîkh dari sebagian ulama, Hawa melahirkan 40 anak dalam 20 kali kehamilan. Demikian yang disampaikan Ibnu Ishaq. Ibnu Ishaq menyebutkan semua nama anak-anak Adam tersebut. Wallâhu a’lam. Menurut sumber lain, Hawa melahirkan sebanyak 120 kali, setiap kelahiran dua anak sepasang; lelaki dan perempuan, yang paling tua Qabil dan saudarinya, Qalima, dan yang terakhir Abdul Mughits dan saudarinya Ummu Mughits.

Setelah itu, populasi manusia menyebar di berbagai belahan bumi dan berkembang baik, seperti yang disampaikan Allah, “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (An-Nisâ`, 4 : 1).

Para ahli sejarah menyebutkan, Adam sebelum meninggal dunia sempat melihat 400.000 keturunannya (anak-anak dan cucu-cucunya). Wallâhu a’lam.







[39] Shaḫîḫ Bukhari, Kitab: Fitnah, Bab: Ketika dua orang muslim saling berhadapan dengan menenteng pedang, Shaḫîḫ Muslim, Kitab: Fitnah, Bab: Ketika dua orang muslim saling berhadapan dengan menenteng pedang.
[40] HR. Ahmad dalam Musnad-nya (I/383).
[41] Sebuah gunung tinggi menghadap kota Damaskus. Baca: Mu’jamul Buldân (IV/295).

0 Response to "Nabi Adam As. Bagian 7"

Post a Comment

Harap "Comment as Name/URL" Sertakan url Anda dalam nama untuk kunjungan balik. No active link.