بـســـــــــــم الله الرحمن اللرحيم
Qishash al-Anbiya – Ibnu Katsir
اسلام
عليكم kawan blogger yang dirahmati
Allah (امين). Masih Kisah Nabi Adam (belum beres juga nih kisah), setelah
sebelumnya kami menjelaskan tentang ringkasan hadits-hadits terkait penciptaan
Nabi Adam As., sekarang kami akan coba menjelaskan tentang kedua anak pertama
Nabi Adam As.
Gak pake basa-basi lagi, yuuk
kita simak kisah berikut. :D
![]() |
| Ilustrasi Qabil dan Habil |
Kisah Dua Anak Adam; Qabil
dan Habil
Allah Swt. berfirman, “Dan
ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra
Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari
mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia
(Qabil) berkata, ‘Sungguh, aku pasti membunuhmu!’ Dia (Habil) berkata,
‘Sesungguhnya, Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.’ ‘Sungguh,
jika engkau (Qabil) menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak
akan menggerakan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah,
Rabb seluruh alam.’ ‘Sesungguhnya, aku ingin agar engkau kembali dengan
(membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi
penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.’ Maka nafsu (Qabil)
mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar)
membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. Kemudian Allah mengutus
seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil).
Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, ‘Oh,
celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga
aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Maka jadilah dia temasuk orang yang
menyesal.’” (Al-Mâ’idah, 5 : 27-31).
Berikut akan kami sampaikan
intisari penjelasan para imam salaf terkait kisah ini.
As-Suddi meriwayatkan dari
Abu Malik dan Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari
sejumlah sahabat. Adam menikahkan setiap anak lelaki dengan anak perempuan yang
lahir tidak bersamaan. Habil ingin menikahi saudara perempuan Qabil, dan Qabil
lebih tua dari Habil. Saudara perempuan Qabil cantik jelita. Qabil tidak mau
mengalah dengan saudaranya dan tetap ingin memiliki saudarinya itu. Adam
memerintahkan Qabil untuk menikahkan saudarinya tersebut dengan Habil, tapi
Qabil menolak. Adam lalu memerintahkan keduanya untuk mempersembahkan kurban.
Adam pergi untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah, dan menitipkan anak-anaknya
kepada langit, tapi langit enggan menerima permintaannya itu. Adam kemudia
menitipkan anak-anaknya kepada bumi dan gunung, mereka semua menolak. Qabil
justru menerima permintaan ayahnya untuk menjaga saudara-saudaranya.
Qabil dan Habil
Mempersembahkan Pengorbanannya
Saat Qabil dan Habil mempersembahkan
kurban, Habil mempersembahkan seekor kambing ternak gemuk, karena ia memiliki
banyak kambing. Sementara Qabil mempersembahkan seikat hasil tanaman yang
buruk. Api kemudian turun dan memakan kurban Habil, sementara kurban milik
Qabil dibiarkan. Qabil pun marah lalu berkata, “Sungguh, aku akan membunuhmu
agar tidak menikahi saudariku.” Habil menyahut, “Sesungguhnya, Allah hanya
menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”
Kisah ini juga diriwayatkan
dari Ibnu Abbas melalui sejumlah jalur riwayat lain, dan Abdullah bin Amr.
Abdullah bin Amr mengatakan, “Demi Allah, yang dibunuh (Habil) sebenarnya lebih
kuat dari yang membunuh (Qabil). Hanya saja rasa berdosa mencegah Habil
menggerakan tangan untuk membunuh Qabil.”
Abu Ja’far Al-Baqir
menyebutkan, Adam menyerahkan kurban kedua anaknya itu, lalu kurban Habil
diterima, sementara kurban milik Qabil tidak diterima. Qabil kemudian berkata
pada ayahnya, “Kurban Habil diterima karena kau berdoa untuknya, dan tidak
berdoa untukku.” Qabil kemudian mengancam untuk membunuh saudaranya, Habil.
Peristiwa Pembunuhan Pertama
di Dunia
Suatu malam, Habil tidak
kunjung pulang mengembala kambing. Adam kemudian mengutus Qabil untuk melihat
apa yang membuatnya terlambat pulang. Setelah mencari-cari, Qabil bertemu
Habil. Qabil berkata pada Habil, “Kurbanmu diterima sementara kurbanku tidak.” Habil
menyahut, “Sesungguhnya, Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”
Qabil marah saat itu dan memukulkan benda tumpul yang ia bawa hingga Habil
meninggal dunia. Pendapat lain menyebutkan, Qabil membunuh Habil dengan
sebongkah batu yang ia lemparkan ke kepaka Habil saat sedang tidur hingga
pecah. Pendapat berbeda menyatakan, Qabil mencekik Habil dengan keras dan
menggigitnya seperti binatang buas, hingga Habil tewas.” Wallâhu a’lam.
Kata-kata Habil kepada Qabil
saat ia diancam akan dibunuh, “Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakan
tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakan tanganku
kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam,”
menunjukkan akhlak yang baik, takut kepada Allah, dan menahan diri untuk
membalas perlakuan serupa yang akan dilakukan saudaranya.
Untuk itu Nabi Saw. bersabda
seperti disebutkan dalam kitab Shaḫîḫain, “Ketika dua orang muslim
saling berhadapan dengan membawa pedang, maka yang membunuh dan yang dibunuh
masuk neraka.” Mereka para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, yang membunuh
(pantas masuk neraka), lalu bagaimana dengan orang yang dibunuh (kenapa masuk
neraka juga)?” Beliau menjawab, “(Karena), ia bersikeras untuk membunuh
temannya.”[39]
Imam Ahmad, Abu Dawud dan
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia mengatakan saat fitnah
menimpa Utsman bin Affan, “Aku bersaksi bahwa Rasulullah Saw. pernah
menyampaikan, ‘Sungguh akan terjadi suatu fitnah, orang yang duduk pada saat
itu lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri saat itu lebih
baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan saat itu lebih baik dari
orang yang berlari kecil.’ Sa’ad berkata, ‘Katakan padaku, jika seseorang masuk
ke dalam rumahku lalu menggerakan tangan ke arahku untuk membunuhku (apa yang
harus aku lakukan)?’ ‘Jadilah seperti anak Adam.’ Jawab beliau.”
Imam Ahmad juga meriwayatkan,
dari Abu Mu’awiyah dan Waki’, dari Al-A’masy, dari Abdullah bin Marrah, dari
Masruq, dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah suatu jiwa
dibunuh secara semena-mena, melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung
dosanya, karena dialah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan.” (HR.
Jamaah, kecuali Abu Dawud, dari hadits A’masy. Seperti juga yang diriwayatkan
dari Abdullah bin Amr bin Ash dan Ibrahim An-Nakha’i, keduanya menyebutkan
hadits yang sama).[40]
Lokasi Pembunuhan Habil
Menurut keterangan beberapa
ulama, yang kemungkinan besar mengutip dari Ahli Kitab, bahwa lokasi
terbunuhnya Habil adalah di kawasan pegunungan Qasiun,[41]
sebelah utara Damaskus, terdapat sebuah gua bernama gua Dam. Gua ini dikenal
sebagai tempat Qabil membunuh saudaranya, Habil. Informasi ini dinukil dari
Ahli Kitab. Hanya Allah yang mengetahui keabsahan informasi ini.
Al-Hafizh Ibnu Asakir
menyebutkan dalam biografi Ahmad bin Katsir—Ibnu Asakir menyatakan bahwa Ahmad
bin Katsir termasuk salah seorang yang saleh—bermimpi bertemu Nabi Saw., Abu
Bakar, Umar dan Habil. Habil diminta bersumpah bahwa darah itu darahnya, Habil
kemudian bersumpah. Ahmad bin Katsir menyebutkan, ia memohon kepada Allah agar
menjadikan tempat tersebut sebagai tempat terkabulnya doa. Permintaan itu
dikabulkan dan dibenarkan Rasulullah Saw., karena beliau sendiri—dalam mimpi
Ahmad bin Katsir—Abu Bakar, dan Umar biasa berkunjung ke tempat itu setiap hari
Kamis.
Dengan asumsi kisah mimpi
Ahmad bin Katsir ini benar, tetap tidak menimbulkan efek hukum syar’i. Wallâhu
a’lam.
Firman Allah dalam surah
Al-Mâ’idah, 5 : 31, sebagian ulama menyebutkan, setelah membunuh saudaranya,
Qabil memanggul jasad saudaranya selama satu tahun. Yang lain menyebut selama
seratus tahun. Qabil terus seperti itu hingga Allah mengutus dua gagak.
As-Suddi meriwayatkan
diriwayatkan sanadnya dari para sahabat, Allah mengutus dua gagak, keduanya
kemudian terlibat perkelahian, hingga salah satunya membunuh yang lain. Setelah
membunuhnya, ia menggali, lalu ia lemparkan ke dalam liang tersebut, ia pendam
lalu tanahnya ia ratakan kembali. Saat Qabil melihat hal itu, ‘Oh, celaka
aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku
dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Qabil melakukan seperti yang
dilakukan gagak, lalu ia kubur mayat saudaranya itu.
Jumlah Anak Adam
Imam Abu Ja’far bin Jarir
menyebutkan dalam kitab At-Târîkh dari sebagian ulama, Hawa melahirkan
40 anak dalam 20 kali kehamilan. Demikian yang disampaikan Ibnu Ishaq. Ibnu
Ishaq menyebutkan semua nama anak-anak Adam tersebut. Wallâhu a’lam.
Menurut sumber lain, Hawa melahirkan sebanyak 120 kali, setiap kelahiran dua
anak sepasang; lelaki dan perempuan, yang paling tua Qabil dan saudarinya,
Qalima, dan yang terakhir Abdul Mughits dan saudarinya Ummu Mughits.
Setelah itu, populasi manusia
menyebar di berbagai belahan bumi dan berkembang baik, seperti yang disampaikan
Allah, “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu
dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari
(diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan
yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta,
dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan
mengawasimu.” (An-Nisâ`, 4 : 1).
Para ahli sejarah
menyebutkan, Adam sebelum meninggal dunia sempat melihat 400.000 keturunannya
(anak-anak dan cucu-cucunya). Wallâhu a’lam.
[39] Shaḫîḫ
Bukhari, Kitab: Fitnah, Bab: Ketika dua orang muslim saling berhadapan
dengan menenteng pedang, Shaḫîḫ Muslim, Kitab: Fitnah, Bab: Ketika dua
orang muslim saling berhadapan dengan menenteng pedang.
[40] HR.
Ahmad dalam Musnad-nya (I/383).
[41] Sebuah
gunung tinggi menghadap kota Damaskus. Baca: Mu’jamul Buldân (IV/295).

0 Response to "Nabi Adam As. Bagian 7"
Post a Comment
Harap "Comment as Name/URL" Sertakan url Anda dalam nama untuk kunjungan balik. No active link.