بــــسم الله الرحمن الرحيم

"...dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan."
Software Islami Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam Berisi Kumpulan Hadits dan Terjemah.
Software Islami Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam Berisi Kumpulan Hadits dan Terjemah.
Lihat Di Sini
1 2 3 4 5

Kisah Nabi Idris عليه سلام

Software islami ensiklopedi hadits kitab 9 imam berisi kumpulan hadits dan terjemah

بـســـــــــــم الله الرحمن اللرحيم

Qishash al-Anbiya – Ibnu Katsir
اسلم عليكم, semoga saat ini adalah saat yang penuh berkah bagi kawan semua. امين
Pada kesempatan kali ini, ane (انشاء الله) akan membahas tentang Kisah Nabi Idris q.
Langsung aja nih ane kasih Kisahnya dari Qashash al-Anbiyâ’—Ibnu Katsir.

Sebelumnya :


Nabi Idris 'as.
Nabi Idris q


Allah k berfirman, “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya, dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Maryam, 19 : 56-57).

Allah memuji dan menyebut Idris sebagai seorang nabi dan mencintai kebenaran. Dia adalah Khanukh yang dimaksud. Nasab Rasulullah n terhubung dengan nasab Idris, seperti disebutkan oleh sejumlah ulama nasab.

Anak pertama Adam yang diberi kenabian adalah Syaits.

Ibnu Ishaq menyebutkan, Syaits adalah orang pertama yang menulis dengan menggunakan pena. Ia menjumpai Adam selama 386 tahun. Sejumlah orang menyebut, inilah yang disinggung dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam As-Sulami saat Rasulullah n ditanya tentang tulisan dengan tanah, beliau menjawab, “Dulu pernah ada seorang nabi menulis dengannya. Maka siapa menulis tepat di tempat tulisannya, maka itulah (yang terbaik).”[1]

Banyak ulama tafsir dan hukum menyatakan, Idris adalah orang pertama yang membicarakan tentang tulisan yang mereka sebut sebagai Hurmus Al-Haramisah (singa paling ganas). Mereka membuat banyak dusta terhadap Syaits, seperti halnya berdusta terhadap para nabi, ulama, orang bijak dan para wali.

Firman Allah k, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” seperti disebutkan dalam kitab Shaḫîḫain dalam hadits Isra’,[2] Rasulullah n melintas di hadapan Idris di langit ke empat. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Yunus dari Abdul A’la, dari Ibnu Wahab, dari Jarir bin Hazim, dari A’masy, dari Syamr bin Athiyah, dari Hilal bin Yasaf, ia menuturkan, “Ibnu Abbas bertanya kepada Ka’ab, saat itu aku ada, Ibnu Abbas berkata, ‘Apa maksud firman Allah k kepada Idris, ‘Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’?’ Ka’ab menjawab, ‘Adapun Idris, Allah mewahyukan padanya, ‘Sungguh, setiap hari Aku mengangkat untukmu seperti amalan seluruh keturunan Adam—mungkin para manusi di masanya.’ Idris kemudian ingin meningkatkan amalannya, ia kemudian didatangi temannya dari golongan malaikat. Idris berkata, ‘Sungguh, Allah mewahyukan kepadaku ini dan itu.’

Temannya dari golongan malaikat itu kemudian berbicara kepada malaikat maut hingga amalannya meningkat. Malaikat tersebut kemudian membawa Idris di punggungnya tepat di antara kedua sayapnya, lalu dibawa terbang ke langit. Saat berada di langit ke empat, ia berpapasan dengan malaikat maut yang tengah turun, lalu malaikat maut berbicara padanya tentang Idris seperti yang ia katakan, si malaikat maut kemudian bertanya, ‘Mana Idris?’ ‘Dia ada di punggungku.’ Jawab malaikat itu. Malaikat maut kemudian mengatakan, ‘Aneh sekali! Aku tadinya diutus (Allah) dan dikatakan padaku, ‘Cabutlah nyawa Idris di langit ke empat.’ Aku pun berkata, ‘Bagaimana mungkin aku mencabut nyawa Idris di langit ke empat sementara Idris berada di bumi?!’ Malaikat maut kemudian mencabut nyawa Idris di langit ke empat. Itulah maksud firman Allah k, ‘Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’”[3]

Juga diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dalam penafsiran ayat ini.

Riwayat Ibnu Abi Hatim menyebutkan; Idris kemudian berkata pada malaikat (yang membawanya naik ke langit ke empat), ‘Tanyakan pada malaikat maut, berapa sisa usiaku?’ Malaikat yang membawanya kemudian bertanya kepada malaikat maut yang berada di dekatnya, ‘Berapa sisa usianya?’ Malaikat maut menjawab, ‘Aku tidak tahu, aku mau melihat dulu.’ Setelah itu malaikat maut menjawab, ‘Kau bertanya padaku tentang orang yang usianya hanya tinggal sekejap mata.’ Malaikat yang membawa Idris kemudian melihat ke arah Idris yang berada di bawah sayapnya, ternyata Idris sudah meninggal tanpa ia sadari. Ini salah satu kisah israiliyat, dan sebagian isinya mungkar.

Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid terkait firman Allah k, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”, ia mengatakan, “Idris diangkat ke langit dalam kondisi belum mati, seperti halnya Isa. Jika yang dimaksud adalah Idris belum mati hingga saat ini, pernyataan ini perlu dikaji lebih jauh. Namun jika yang dimaksud Idris diangkat ke langit dalam kondisi masih hidup, kemudian nyawanya dicabut di sana, pernyataan ini tidak berseberangan dengan penuturan Ka’ab sebelumnya. Wallâhu a’lam.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait firman Allah k, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”, Idris di angkat ke langit ke enam, lalu meninggal dunia di sana. Penjelasan yang sama juga disampaikan Dhahhak.[4] Menurut hadits Muttafaq ‘alaih yang menyebut Idris diangkat ke langit ke empat, ini lebih shahih, seperti dinyatakan Mujahid dan lainnya. Hasan Al-Bashri menyatakan terkait firman Allah k, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”, Idris diangkat ke surga. Yang lain menyatakan, Idris diangkat ke langit saat ayahnya, Yarid bin Mahlayil, masih hidup. Wallâhu a’lam.

Apakah Idris Nama Lain dari Ilyas?
Imam Bukhari menyatakan, “Beberapa ulama menyebutkan riwayat dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, bahwa Ilyas adalah Idris. Pendapat mereka ini didasarkan pada riwayat dalam hadits Az-Zuhri dari Anas tentang kisah Isra’; saat Nabi n melintas di hadapan Idris, ia mengatakan, ‘Selamat datang saudara yang saleh dan nabi yang saleh.’ Tidak seperti yang dikatakan Adam dan Ibrahim, ‘Selamat datanga nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Andai nasab Nabi n bertemu dengan nasab Idris, tentu Idris mengatakan seperti yang dikatakan Adam dan Ibrahim pada beliau.’”[5]

Pernyataan ini tentu saja tidak menunjukkan seperti itu, karena bisa jadi si perawi tidak menghafal riwayat ini dengan baik, atau mungkin Idris mengucapkan kata-kata tersebut dengan nada merendahkan hati, dan tidak menempatkan dirinya sebagai seorang ayah, seperti yang dikatakan Adam selaku ayah manusia dan Ibrahim selaku kekasih Ar-Rahman, sekaligus rasul ulul azmi terbesar setelah Muhammad n. Wallâhu a’lam.





الحمدالله رب العلمين


[1] HR. Ahmad dalam kitab Musnad-nya (V/447-448).
[2] Bukhari (IV/146), Bab: Mi’raj, dan (IV/272), Bab: Kisah tentang Idris q.
[3] Tafsir Mujahid (I/287).
[4] Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali Abu Qasim Al-Khurasani, meninggal dunia tahun 106 H. Baca: Tahdzîbut Tahdzîb (IV/454), At-Taqrîb (I/373).
[5] HR. Bukhari, Kitab: Para nabi, Bab: Kisah tentang Idris q.

0 Response to "Kisah Nabi Idris عليه سلام"

Post a Comment

Harap "Comment as Name/URL" Sertakan url Anda dalam nama untuk kunjungan balik. No active link.