بـســـــــــــم الله الرحمن اللرحيم
Qishash
al-Anbiya – Ibnu Katsir
اسلم عليكم, semoga saat
ini adalah saat yang penuh berkah bagi kawan semua. امين
Pada
kesempatan kali ini, ane (انشاء الله) akan membahas tentang Kisah Nabi
Idris q.
Langsung
aja nih ane kasih Kisahnya dari Qashash al-Anbiyâ’—Ibnu Katsir.
Sebelumnya
:
![]() |
| Nabi Idris q |
Allah
k berfirman, “Dan ceritakanlah
(Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya, dia seorang
yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami mengangkatnya ke
martabat yang tinggi.” (Maryam, 19 : 56-57).
Allah
memuji dan menyebut Idris sebagai seorang nabi dan mencintai kebenaran. Dia
adalah Khanukh yang dimaksud. Nasab Rasulullah n
terhubung dengan nasab Idris, seperti disebutkan oleh sejumlah ulama nasab.
Anak
pertama Adam yang diberi kenabian adalah Syaits.
Ibnu
Ishaq menyebutkan, Syaits adalah orang pertama yang menulis dengan menggunakan
pena. Ia menjumpai Adam selama 386 tahun. Sejumlah orang menyebut, inilah yang
disinggung dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam As-Sulami saat Rasulullah n ditanya tentang tulisan dengan
tanah, beliau menjawab, “Dulu pernah ada seorang nabi menulis dengannya. Maka
siapa menulis tepat di tempat tulisannya, maka itulah (yang terbaik).”[1]
Banyak
ulama tafsir dan hukum menyatakan, Idris adalah orang pertama yang membicarakan
tentang tulisan yang mereka sebut sebagai Hurmus Al-Haramisah (singa
paling ganas). Mereka membuat banyak dusta terhadap Syaits, seperti halnya
berdusta terhadap para nabi, ulama, orang bijak dan para wali.
Firman
Allah k,
“Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” seperti
disebutkan dalam kitab Shaḫîḫain dalam hadits Isra’,[2]
Rasulullah n
melintas di hadapan Idris di langit ke empat. Ibnu Jarir meriwayatkan dari
Yunus dari Abdul A’la, dari Ibnu Wahab, dari Jarir bin Hazim, dari A’masy, dari
Syamr bin Athiyah, dari Hilal bin Yasaf, ia menuturkan, “Ibnu Abbas bertanya
kepada Ka’ab, saat itu aku ada, Ibnu Abbas berkata, ‘Apa maksud firman Allah k kepada Idris, ‘Dan Kami telah
mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’?’ Ka’ab menjawab, ‘Adapun Idris,
Allah mewahyukan padanya, ‘Sungguh, setiap hari Aku mengangkat untukmu seperti
amalan seluruh keturunan Adam—mungkin para manusi di masanya.’ Idris kemudian
ingin meningkatkan amalannya, ia kemudian didatangi temannya dari golongan
malaikat. Idris berkata, ‘Sungguh, Allah mewahyukan kepadaku ini dan itu.’
Temannya
dari golongan malaikat itu kemudian berbicara kepada malaikat maut hingga
amalannya meningkat. Malaikat tersebut kemudian membawa Idris di punggungnya
tepat di antara kedua sayapnya, lalu dibawa terbang ke langit. Saat berada di
langit ke empat, ia berpapasan dengan malaikat maut yang tengah turun, lalu
malaikat maut berbicara padanya tentang Idris seperti yang ia katakan, si
malaikat maut kemudian bertanya, ‘Mana Idris?’ ‘Dia ada di punggungku.’ Jawab
malaikat itu. Malaikat maut kemudian mengatakan, ‘Aneh sekali! Aku tadinya
diutus (Allah) dan dikatakan padaku, ‘Cabutlah nyawa Idris di langit ke empat.’
Aku pun berkata, ‘Bagaimana mungkin aku mencabut nyawa Idris di langit ke empat
sementara Idris berada di bumi?!’ Malaikat maut kemudian mencabut nyawa Idris
di langit ke empat. Itulah maksud firman Allah k, ‘Dan Kami telah mengangkatnya
ke martabat yang tinggi.’”[3]
Juga
diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dalam penafsiran ayat ini.
Riwayat
Ibnu Abi Hatim menyebutkan; Idris kemudian berkata pada malaikat (yang
membawanya naik ke langit ke empat), ‘Tanyakan pada malaikat maut, berapa sisa
usiaku?’ Malaikat yang membawanya kemudian bertanya kepada malaikat maut yang
berada di dekatnya, ‘Berapa sisa usianya?’ Malaikat maut menjawab, ‘Aku tidak
tahu, aku mau melihat dulu.’ Setelah itu malaikat maut menjawab, ‘Kau bertanya
padaku tentang orang yang usianya hanya tinggal sekejap mata.’ Malaikat yang
membawa Idris kemudian melihat ke arah Idris yang berada di bawah sayapnya,
ternyata Idris sudah meninggal tanpa ia sadari. Ini salah satu kisah israiliyat,
dan sebagian isinya mungkar.
Ibnu
Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid terkait firman Allah k, “Dan Kami telah mengangkatnya
ke martabat yang tinggi.”, ia mengatakan, “Idris diangkat ke langit dalam
kondisi belum mati, seperti halnya Isa. Jika yang dimaksud adalah Idris belum
mati hingga saat ini, pernyataan ini perlu dikaji lebih jauh. Namun jika yang
dimaksud Idris diangkat ke langit dalam kondisi masih hidup, kemudian nyawanya
dicabut di sana, pernyataan ini tidak berseberangan dengan penuturan Ka’ab
sebelumnya. Wallâhu a’lam.
Al-Aufi
meriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait firman Allah k, “Dan Kami telah mengangkatnya
ke martabat yang tinggi.”, Idris di angkat ke langit ke enam, lalu
meninggal dunia di sana. Penjelasan yang sama juga disampaikan Dhahhak.[4]
Menurut hadits Muttafaq ‘alaih yang menyebut Idris diangkat ke langit ke empat,
ini lebih shahih, seperti dinyatakan Mujahid dan lainnya. Hasan Al-Bashri
menyatakan terkait firman Allah k,
“Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”, Idris diangkat
ke surga. Yang lain menyatakan, Idris diangkat ke langit saat ayahnya, Yarid
bin Mahlayil, masih hidup. Wallâhu a’lam.
Apakah
Idris Nama Lain dari Ilyas?
Imam
Bukhari menyatakan, “Beberapa ulama menyebutkan riwayat dari Ibnu Mas’ud dan
Ibnu Abbas, bahwa Ilyas adalah Idris. Pendapat mereka ini didasarkan pada
riwayat dalam hadits Az-Zuhri dari Anas tentang kisah Isra’; saat Nabi n melintas di hadapan Idris, ia
mengatakan, ‘Selamat datang saudara yang saleh dan nabi yang saleh.’ Tidak
seperti yang dikatakan Adam dan Ibrahim, ‘Selamat datanga nabi yang saleh dan
anak yang saleh.’ Andai nasab Nabi n
bertemu dengan nasab Idris, tentu Idris mengatakan seperti yang dikatakan Adam
dan Ibrahim pada beliau.’”[5]
Pernyataan
ini tentu saja tidak menunjukkan seperti itu, karena bisa jadi si perawi tidak
menghafal riwayat ini dengan baik, atau mungkin Idris mengucapkan kata-kata
tersebut dengan nada merendahkan hati, dan tidak menempatkan dirinya sebagai
seorang ayah, seperti yang dikatakan Adam selaku ayah manusia dan Ibrahim
selaku kekasih Ar-Rahman, sekaligus rasul ulul azmi terbesar setelah Muhammad n. Wallâhu a’lam.
الحمدالله رب العلمين
[1] HR.
Ahmad dalam kitab Musnad-nya (V/447-448).
[2] Bukhari
(IV/146), Bab: Mi’raj, dan (IV/272), Bab: Kisah tentang Idris q.
[3] Tafsir
Mujahid (I/287).
[4] Adh-Dhahhak
bin Muzahim Al-Hilali Abu Qasim Al-Khurasani, meninggal dunia tahun 106 H.
Baca: Tahdzîbut Tahdzîb (IV/454), At-Taqrîb (I/373).
[5] HR.
Bukhari, Kitab: Para nabi, Bab: Kisah tentang Idris q.

0 Response to "Kisah Nabi Idris عليه سلام"
Post a Comment
Harap "Comment as Name/URL" Sertakan url Anda dalam nama untuk kunjungan balik. No active link.