Ibnu Katsir
قصص الأنبيــاء
KISAH PARA NABI
وَ إذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٓئِكَةِ اِنِّيْ جَاعَلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ
قَالُوْا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمٓاءَۚ
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّٓيْٓ اَعْلَمُ مَالَاتَعْلَمُوْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’
Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”
(Q.S. Al-Baqarah, 2 : 30)
Penciptaan Adam dan Hikmah Dibalik Penciptaannya
Allah mengabarkan, Ia berbicara kepada malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Al-Baqarah, 2 : 30). Allah memberitahukan keinginan-Nya untuk menciptakan Adam dan keturunannya yang saling menggantikan peran satu sama lain, seperti yang Ia sampaikan di tempat berbeda, “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bum.” (Al-An’âm, 6 : 165). “Dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi.” (An-Naml, 27 : 62). Allah menyampaikan hal itu kepada para malaikat sebagai pujian terkait penciptaan Adam dan keturunannya, seperti halnya Allah mengabarkan hal besar sebelum keberadaan Adam.
Para malaikat kemudian bertanya untuk mencari tahu dan mengungkap hikmah dibalik penciptaan Adam dan keturunannya, bukan untuk membantah, menghina, ataupun dengki terhadap keturunan Adam, seperti yang dipahami oleh sebagian mufassir. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana.”
Menurut salah satu pendapat, kerusakan dan pertumpahan darah sudah pernah ada seperti yang pernah mereka lihat sebelum Adam diciptakan, yang dilakukan oleh para jin dan bunn[1], seperti disampaikan Qatadah.
Abdullah bin Umar[2] menuturkan, “Jin sudah ada 2.000 tahun sebelum Adam diciptakan, mereka saling menumpahkan darah, lalu Allah mengirim sepasukan malaikat untuk menghalau mereka ke semenanjung lautan.” Penjelasan senada juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Menurut riwayat Hasan, para malaikat diilhami hal tersebut. Menurut pendapat lain, para malaikat mengetahui hal itu kala melihat di Lauhul Mahfuzh. Sumber lain menyebutkan, mereka diberitahu oleh Harut dan Marut dari seorang malaikat bernama Sijil yang berada di atas mereka berdua. Demikian yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim[3] dari Abu Ja’far Al-Baqir.[4]
Menurut pendapat lain, para malaikat mengatakan seperti itu karena mereka tahu, makhluk yang diciptakan dari unsur bumi biasanya memang berwatak seperti itu.
“Sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”[5] yaitu kami senantiasa beribadah kepada-Mu dan tak seorang pun diantara kami durhaka pada-Mu. Jika memang manusia diciptakan dengan maksud untuk beribadah kepada-Mu, kami pun tiada pernah lelah untuk beribadah kepada-Mu setiap waktu.
“Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” Yaitu Aku mengetahui maslahat kuat dibalik penciptaan manusia yang tidak kalian ketahui. Maksudnya, di antara mereka akan muncul para nabi, rasul, shiddiqin dan syuhada.
Allah mengajarkan Ilmu kepada Adam hingga Melampaui Ilmu Para Malaikat
Selanjutnya Allah menjelaskan sisi kemuliaan Adam terkait limu yang melebihi kemuliaan mereka, Allah berfirman, “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya.” Ibnu Abbas[6] menafsirkan, “Yang dimaksud adalah nama-nama benda yang diketahui manusia, mulai dari manusia, hewan, bumi, tanah, lautan, gunung, unta, keledai, dan nama-nama benda lainnya.” Riwayat lain menyebutkan, Allah mengajarkan nama lembaran, takdir, dan lainnya, hingga nama kentut yang tidak bersuara dan yang bersuara. Mujahid menafsirkan, “Allah mengajarkan nama-nama hewan, burung, dan segala sesuatu kepada Adam.” Penjelasan serupa juga disampaikan Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan mufasir lain.[7]
Ar-Rabi’ menafsirkan, “Allah mengajarkan nama-nama malaikat pada Adam.” Abdurrahman bin Zaid menafsirkan, “Allah mengajarkan nama-nama keturunan Adam kepadanya.” Yang shahih, Allah mengajarkan nama-nama benda dan perilakunya, mulai dari benda-benda besar hingga kecil, seperti yang disinggung oleh Ibnu Abbas.
Terkait hal ini, Bukhari[8] dan Muslim[9] meriwayatkan dari jalur Sa’id dan Hisyam dari Qatadah, dari Anas bin Malik,[10] dari Rasulullah SAW., beliau bersabda, “Kaum mukminin berkumpul pada hari kiamat, mereka berkata: ‘Mari kita memohon syafaat kepada Rabb.’ Mereka kemudian menemui Adam, mereka berkata, ‘Kau ayah manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu, mengajarimu nama-nama segala sesuatu,” dan seterusnya hingga akhir hadits.
“Kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” Hasan Al-Bashri[11] menyatakan, “Kala Allah hendak menciptakan Adam, para malaikat berkata, ‘Setiap kali Rabb kita menciptakan suatu makhluk, kita pasti lebih tahu dari makhluk itu.’ Allah kemudian menguji mereka dengan Adam. Itulah yang dimaksud firman Allah SWT., “jika kamu yang benar!”
“Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana’,” yaitu Mahasuci Engkau bahwa ada seorang makhluk yang mengetahui sebagian dari ilmu-Mu tanpa Engkau ajari, seperti yang Allah sampaikan di tempat berbeda, “Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki.” (Al-Baqarah, 2 : 255)
“Dia Allah berfirman, ‘Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!’ Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, ‘Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?’” yaitu, Aku mengetahui yang tersembunyi, sebagaimana Aku mengetahui yang nyata.
Menurut pendapat lain, maksud firman Allah, “Dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan,” yaitu kata-kata para malaikat, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana,” sementara maksud firman, “Dan apa yang kamu sembunyikan,” yaitu kata-kata Iblis kala banyak sekali kebaikan disembunyikan untuk Adam As., seperti dinyatakan Sa’id bin Jubair, Mujahid, As-Suddi, Dhahhak, Ats-Tsauri, dan pendapat ini dipilih Ibnu Jarir.
Abu Aliyah, Rabi’, Hasan, dan Qatadah menyatakan, “Dan apa yang kamu sembunyikan.” Yaitu kata-kata para malaikat, “Setiap kali Rabb kita menciptakan suatu makhluk, kita pasti lebih tahu dan lebih mulia dari makhluk itu.”
Empat Keistimewaan Nabi Adam As.
Firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri,” ini merupakan penghormatan besar dari Allah untuk Adam ketika menciptakannya dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh ciptaan-Nya pada Adam, seperti yang Allah sampaikan dalam ayat berbeda, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al-Ḫijr, 15 : 29). Allah memberikan empat kemuliaan kepada Adam; menciptakannya dengan tangan-Nya secara langsung, meniupkan sebagian ruh ciptaan-Nya pada Adam, memerintahkan para malaikat sujud padanya, dan mengajarkan nama-nama segala benda padanya.
Itulah kenapa Musa Kalîmullâh berkata kepada Adam saat keduanya terlibat perdebatan di kalangan para malaikat, “Engkau Adam, ayah manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan ruh ciptaan-Nya padamu, memerintahkan para malaikat sujud padamu, dan mengajarkan nama segala sesuatu padamu.” Seperti itulah yang diucapkan manusia saat berada di padang Mahsyar pada hari kiamat seperti yang telah disinggung sebelumnya, dan yang akan diuraikan secara lengkap berikutnya, إن شاء الله
Di dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud. (Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (Al-A’râf, 7 : 11).
[1] Mungkin yang dimaksud adalah hann, mereka adalah sekelompok jin.
[2] Abdullah bin Umar bin Khattab Al-Qurasy Al-Adawi, meninggal dunia tahun 73 H. (Asadul Ghâbah, III/140).
[3] Abdurrahman bin Muhammad bin Idris bin Munzir At-Tamimi, meninggal dunia tahun 327 H. (Tadzkiratul Ḫuffâdz, III/289, Syadzarâtudz Dzahab, II/308, Thabaqâtul Ḫuffâdz, hal: 345).
[4] Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, meninggal dunia tahun 114 H. (Thabaqâtul Ḫuffâdz, hal: 49, Tadzkiratul Ḫuffâdz, I/124).
[5] Surah Al-Baqarah, ayat 30. (Tafsir Mujahid, I/72 dan Tafsir Ath-Thabari /187).
[6] Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttalib, meninggal dunia tahun 67 H di Thaif. (Asadul Ghâbah, III/290).
[7] Mujahid bin Jabr Al-Makky Al-Khajraji Abu Hajjaj, meninggal dunia tahun 103 H. (Thabaqât Ibni Sa’ad, V/343, Syadzarâtudz Dzahab, I/125, Thabaqâtul Huffâzh, hal: 35).
[8] Shahih Bukhari, kitab: tafsir, bab: tafsir surah Al-Baqarah.
[9] Shahih Muslim, kitab: iman, bab: penduduk surga yang paling rendah kedudukannya.
[10] Anas bin Malik bin Nadhr bin Dhamdham Al-Anshari Abu Hamzah. (TahdzÎbut TahdzÎb, I/276).
[11] Hasan bin Abu Hasan Al-Bashri, Abu Sa’id, meninggal dunia tahun 11 H. (Syadzarâtudz Dzahab, I/136)
0 Response to "Nabi Adam As. Bagian 1"
Post a Comment
Harap "Comment as Name/URL" Sertakan url Anda dalam nama untuk kunjungan balik. No active link.